Armin NasutionOleh Armin Nasution
BUATLAH kesimpulan dari pernyataan berikut. Semua profesor adalah dosen, semua profesor orang sombong. Manakah jawaban yang paling tepat: a) semua dosen adalah profesor; b) semua dosen sombong; c) sebagian orang sombong adalah profesor dan d) tidak ada profesor yang dosen. Soal seperti ini sering muncul pada tes potensi akademik. Jawabannya akan saya sampaikan di ujung tulisan.
Menurut KBBI sombong adalah menghargai diri secara berlebihan, congkak, atau pongah. Sifat ini biasanya membuat seseorang merasa lebih segalanya dan sering kali meremehkan orang lain.
Ketika masih menjadi jurnalis aktif, narasumber utama di Harian Waspada untuk memberikan pemahaman terhadap masalah negara yang sedang terjadi umumnya dari kalangan profesor. Saya masih ingat saat mewawancarai Prof. Bachtiar Hassan Miraza, Prof. Moenaf Regar, Prof. Bismar Nasution, Prof. Chairuddin P Lubis, Prof. Solly Lubis, Prof. Sofyan Syafri, PhD, Prof.Syawal Gultom dan sejumlah nama lain.
Para profesor ini di mata jurnalis adalah para pemikir yang memilki sumbangsih besar dalam memberi pencerdasan kepada masyarakat terutama melalui media karena bisa diakses semua lapisan. Mereka aktif menyumbangkan pemikirannya.
Ketika ada hal yang perlu dikritisi dari kebijakan pemerintah, bukan jurnalis yang mencari mereka. Tapi mereka menghubungi media untuk memberikan pemikirannya. Beberapa kali saya dihubungi langsung Prof Bachtiar Hassa Miraza, misalnya, atau juga Prof. Syawal Gultom jika membahas tentang pendidikan.
Dari nama-nama itu tercermin karakter mereka sebagai guru besar di kampus. Santun, punya pemikiran dan to the point ketika memberikan statement. Mereka seperti ilmu padi, makin berilmu makin merunduk.
Mereka mencari saluran menyampaikan pemikiran yang harus mencerdaskan dan tidak menyesatkan. Bayangkan misalnya, jika di zaman itu ada statement yang menyatakan bahwa dolar AS tidak akan mempengaruhi masyarakat desa, saya yakin Prof. Bachatiar Hassan Miraza dan juga Dr. Polin Pospos, PhD akan menelepon dan memberikan pendapatnya.
Begitulah memang seharusnya profil guru besar yang peduli tidak hanya pada orientasi akademik tapi juga masalah kebangsaan. Di sisi lain, karena sudah berada di lingkungan kampus, saya pun banyak berinteraksi dengan profesor-profesor lain yang sebagian berbanding 180 derjat dengan figur dan nama-nama yang disebut di atas. Banyak profesor sekedar mengejar pencapaian pribadi.
Karena begini, saya yakin para dosen yang kini memiliki gelar profesor sudah melakukan penelitian dan pengabdian selain pengajaran. Penelitiannya pun pasti sudah dipublikasi di jurnal terakreditasi internasional. Tapi sekali lagi itu hanya capaian pribadi.
Coba berapa banyak profesor atau bahkan dosen yang melakukan penelitian hanya untuk menjaga kum dan angka kredit. Seberapa banyak pula penelitian profesor yang dipublikasi di jurnal tapi ujungnya masuk ‘tong sampah’ karena tidak bisa diaplikasikan pada masyarakat yang membutuhkan solusi. Atau siapa diantara profesor kita yang sudah pernah mengirimkan tulisannya ke Harian Kompas lalu dipublikasi.
Hitung pula berapa banyak yang mengirimkan artikelnya ke media tapi ternyata tidak dimuat sama sekali. Atau seberapa banyak penelitian yang tidak bisa diaplikasikan di masyarakat. Ini pertanda apa? Pertanda bahwa kita baru hebat di kampus seperti katak dalam tempurung.
Tapi wajar mereka tetap berbangga karena sudah mencapai jenjang tertinggi dalam karir akademik. Soal seberapa bermanfaat profesor di tengah mahasiswa dan masyarakat masih perlu kajian mendalam.
Karena di kampus pun banyak juga mahasiswa yang mengeluhkan profesor-nya baik sebagai dosen maupun pembimbing skripsi menjadi orang paling sibuk. Jika bercerita tentang gelar akademik tertinggi, tentu seorang profesor kualitasnya memberikan layanan akademik diatas dosen yang masih lektor atau lektor kepala. Layanan ke mahasiswa maksimal, kepedulian terhadap program studinya lebih tinggi, kontribusi pemikiran terhadap kemajuan kampus dan persoalan bangsa pun harus detil dan runut.
Sejujurnya karena terbiasa dulu di dunia jurnalis begitu masuk kampus merasa sedikit kaget. Ternyata profesor di kampus tak seperti yang diagungkan. Banyak dari mereka pintar untuk diri sendiri. Mereka mampu menjelaskan sesuatu secara detil dan rigid tapi yang faham hanya mereka sendiri. Public speakingnya bermasalah, ketika diminta menyelesaikan sesuatu, mengambil keputusan, berbelok-belok kesana kemari tanpa solusi kemudian hanya menyalahkan orang. Pengalaman-pengalaman seperti ini lumrah dijumpai di kampus.
Makin berbahaya ketika ‘profesor sombong’ dan ‘rada linglung’ diberi jabatan. Orientasinya memecahkan masalah jauh dibawah standar. Ketika menghadapi masalah, yang mereka kejar bukan apa solusinya tapi kenapa bisa terjadi. Ujungnya ketika ada masalah, yang ditanya kenapa dan kenapa, sehingga tidak ada solusi.
Maka saya kira banyak juga profesor kita yang mencapainya karena tugas akhirnya untuk kenaikan jabatan dikerjakan orang lain. Tentu tak semua profesor seperti itu. Bisa saja potret di tulisan ini hanya sebagian kecil. Pasti lebih banyak yang punya dedikasi.
Pekan lalu saat akreditasi program studi Ilmu Ekonomi FE Unimed saya bertemu profesor yang calm, low profile dan membantu maksimal. Tak perlu saya tulis nama.
Dia bilang begini: saya siap bantu dan support prodi ini sampai selesai. Ucapannya tak sekedar pemanis kata. Tapi dibuktikan. Sampai tengah malam pun profesor ini masih mau mengirimkan data. Bahkan di hari-H asesmen lapangan, sempat disampaikannya: nanti biar saya saja yang menjawab pertanyaan asesor bagaimana orientasi pelaksanaan kurikulum dalam proses pembelajaran dihubungkan dengan luaran dosen. Ucapannya dia buktikan.
Sebegitu solidnya si profesor mendorong tim agar mampu menghasilkan nilai maksimal akreditasi. Apa yang dilakukannya tak perlu dibandingkan dengan kontribusi yang lain. Baginya tanggungjawab moral bagian penting dalam tim.
Tak semua bisa diharapkan seperti yang dilakukan si profesor tersebut karena kepedulian adalah bagian dari karakter. Walau sejujurnya, berharap banyak pada para profesor karena gelar mereka paling tinggi. Berharap terhadap kemajuan akademik, berharap pemikiran pada persoalan kebangsaan. Apalagi jumlah pemilik gelar tersebut masih sedikit, artinya mereka istimewa karena tak semua orang mudah sampai ke sana. Menurut data statistik pendidikan Indonesia 2025 ada 13.519 profesor di Indonesia dari total 328.241 dosen.
Di Sumatera Utara ada 564 orang dari 18.019 dosen. Di Unimed 106 profesor dari 1.260 dosen lalu di USU ada 240 profesor dari 1.571 dosen. Kontribusi intelektualnya sangat diharapkan mendorong pengembangan kampus dan sumbang pemikiran terhadap kondisi riil negara.
Menutup tulisan ini ada satu anekdot yang sering disampaikan. Jika seorang profesor, kepala bagian depannya botak, itu tandanya dia pintar. Jika bagian belakang kepalanya botak, tandanya dia pemikir. Jika seluruh kepalanya botak, maka dia fikir dia pintar.
Lalu jawaban pertanyaan di awal tulisan ini yang dimunculkan pada tes TPA pada bagian menarik kesimpulan, adalah ‘C’. Karena semua profesor termasuk kelompok sombong, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian orang sombong adalah profesor. Dan kalau kita tak bisa diperingatkan oleh kata-kata, maka waktu yang akan menghentikan kita.