Punya Skuad Mewah, Belgia Siap Lampaui Prestasi Piala Dunia 2018

redaksi
7 Jun 2026 19:08
Medan News 0 1
3 menit membaca

MEDAN, kaldera.id – Tim Nasional Belgia kembali datang ke Piala Dunia dengan status sebagai salah satu tim kuat Eropa. Pada Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pasukan Rudi Garcia tergabung di Grup G bersama Mesir, Iran, dan Selandia Baru.

Di atas kertas, Belgia menjadi favorit untuk keluar sebagai juara grup. Namun, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai saat memasuki fase gugur, tempat di mana generasi baru Setan Merah akan diuji membuktikan diri melampaui pencapaian terbaik negaranya, yakni peringkat ketiga pada Piala Dunia 2018 di Rusia.

Kekuatan utama Belgia musim ini masih bertumpu pada kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda yang bermain di liga-liga elite Eropa.

Di bawah mistar, Belgia memiliki Thibaut Courtois yang tetap menjadi salah satu kiper terbaik dunia bersama Real Madrid.

Kehadirannya memberikan rasa aman sekaligus menjadi modal penting menghadapi pertandingan besar.

Lini pertahanan diperkuat Arthur Theate, Zeno Debast, Timothy Castagne, dan Ameen Al-Dakhil. Meski tidak setenar generasi Vincent Kompany atau Jan Vertonghen, barisan belakang Belgia dinilai lebih cepat dan agresif dalam mengawal area pertahanan.

Di sektor tengah, Belgia mengandalkan kreativitas dan keseimbangan permainan dari Youri Tielemans, Amadou Onana, dan Axel Witsel.

Kehadiran Onana memberi energi baru di lini tengah, sementara pengalaman Witsel dan Bruyne masih dibutuhkan untuk menjaga ritme permainan.

Namun, kekuatan terbesar Belgia berada di lini depan. Romelu Lukaku tetap menjadi ujung tombak utama dengan naluri gol yang tajam.

Penyerang Napoli itu akan mendapat dukungan dari sederet pemain cepat dan kreatif seperti Jeremy Doku, Leandro Trossard, Johan Bakayoko, Charles De Ketelaere, dan Loïs Openda.

Kecepatan Doku di sisi sayap serta kemampuan Trossard dan De Ketelaere dalam menciptakan peluang membuat Belgia memiliki banyak variasi serangan. Mereka tidak lagi hanya bergantung pada Lukaku seperti beberapa tahun lalu.

Secara taktik, Rudi Garcia diperkirakan mengusung permainan menyerang dengan penguasaan bola yang tinggi.

Belgia juga dikenal memiliki transisi cepat dari bertahan ke menyerang, memanfaatkan kecepatan para pemain sayap untuk membongkar pertahanan lawan.

Di fase grup, Belgia diprediksi tidak akan menemui hambatan berarti. Mesir berpotensi menjadi lawan terberat, terutama jika diperkuat para pemain terbaiknya. Sementara Iran dikenal disiplin dalam bertahan dan bisa menyulitkan lawan yang kurang sabar. Selandia Baru menjadi tim yang paling tidak diunggulkan dalam grup ini.

Peluang Belgia untuk mencapai perempat final bahkan semifinal cukup terbuka. Kualitas individu pemain dan kedalaman skuad menjadi keunggulan utama mereka dibanding banyak peserta lainnya.

Meski demikian, pertanyaan besar tetap muncul: apakah Belgia mampu melampaui prestasi generasi emas yang meraih peringkat ketiga pada Piala Dunia 2018?

Dari sisi kualitas individu, skuad saat ini mungkin tidak semewah era Eden Hazard, Vincent Kompany, dan Toby Alderweireld.

Namun Belgia kini memiliki skuad yang lebih seimbang dengan perpaduan pemain muda dan senior yang sedang berada di usia emas.

Jika Courtois mampu tampil konsisten, lini tengah mendominasi permainan, dan Lukaku tetap tajam di depan gawang, Belgia berpeluang mencatatkan pencapaian terbaik dalam sejarah mereka dengan menembus final untuk pertama kalinya.

Namun untuk menjadi juara dunia, Belgia masih harus membuktikan mampu mengatasi tekanan saat menghadapi raksasa-raksasa seperti Brasil, Argentina, Prancis, Spanyol, atau Jerman di fase gugur.

Dengan materi pemain yang dimiliki saat ini, Belgia layak disebut sebagai kuda hitam berbahaya. Melampaui prestasi 2018 bukan hal mustahil, tetapi mereka harus tampil nyaris sempurna jika ingin mengangkat trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya. (Reza)