Syarifuddin Siba: Wujudkan Melayu Bertransformasi, ISMI Sumut Harus Menjadi Motornya
Seri Diskusi PW ISMI Sumut

redaksi
24 Jul 2026 08:48
2 menit membaca

MEDAN, kaldera.id — Tokoh Melayu Syarifuddin Siba mengajak masyarakat Melayu meninggalkan romantisme kejayaan masa lalu dan mulai melakukan transformasi agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Pesan tersebut disampaikan Syarifuddin dalam Seri Diskusi Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PW ISMI) Sumatera Utara yang berlangsung di Medan, Kamis (23/7/2026).

Menurut Syarifuddin, masyarakat Melayu memiliki kekayaan sejarah, budaya, sumber daya alam, dan nilai-nilai luhur yang besar. Namun, seluruh potensi tersebut harus dikelola melalui perubahan cara berpikir dan kolaborasi agar mampu memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

“Melayu tidak boleh hanya mengenang kejayaan masa lalu. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membangun masa depan melalui transformasi. Semua potensi yang kita miliki harus disinergikan agar masyarakat Melayu mampu menjadi tuan di negerinya sendiri,” katanya.

Sekretaris Jenderal DPP Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABIN) itu menilai transformasi harus dimulai dari penguatan sumber daya manusia, pendidikan, penguasaan teknologi, hingga pelestarian budaya yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Menurut dia, perubahan tersebut membutuhkan lembaga yang mampu menghimpun kekuatan intelektual Melayu sekaligus menghubungkan pemikiran akademik dengan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia berharap Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PW ISMI) Sumatera Utara dapat menjadi motor penggerak transformasi tersebut.

“Saya berharap ISMI tidak hanya menjadi wadah berhimpunnya para sarjana Melayu, tetapi menjadi penggerak perubahan. ISMI harus melahirkan gagasan, membangun kolaborasi, serta menggerakkan masyarakat agar potensi Melayu benar-benar dapat diwujudkan menjadi kekuatan pembangunan,” ujarnya.

Menurut Syarifuddin, tantangan masyarakat Melayu saat ini bukan semata menjaga warisan budaya, tetapi juga memastikan nilai-nilai tersebut tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi global.

Ia menegaskan bahwa pembangunan peradaban Melayu memerlukan sinergi seluruh elemen, mulai dari akademisi, tokoh adat, pemerintah, generasi muda, hingga komunitas budaya.

“Kalau semua kekuatan itu bergerak bersama, saya optimistis masyarakat Melayu tidak hanya mampu menjaga identitas budayanya, tetapi juga tampil sebagai kekuatan yang berkontribusi dalam pembangunan bangsa,” katanya.

Seri Diskusi PW ISMI Sumatera Utara tersebut menjadi bagian dari penyusunan Peta Jalan Kesarjanaan Melayu Indonesia, yang diarahkan untuk memperkuat kontribusi intelektual Melayu melalui pengembangan riset, digitalisasi warisan budaya, serta penguatan peran organisasi dalam menjawab tantangan masa depan.(efri s/red)