Dr. Fakhrur Rozi, S.Sos, M.I.Kom saat menyampaikan paparannya dalam Seri Diskusi PW ISMI Sumut, Kamis (23/7/2026).(HO/kaldera)MEDAN, kaldera.id — Warisan budaya Melayu menghadapi tantangan baru di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Persoalannya bukan lagi sekadar pelestarian fisik, melainkan minimnya dokumentasi digital yang membuat kekayaan budaya Melayu sulit dikenali oleh mesin pencari maupun sistem AI.
Hal itu disampaikan Dosen Komunikasi Digital Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, Dr. Fakhrur Rozi, S.Sos., M.I.Kom, dalam Seri Diskusi Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PW ISMI) Sumatera Utara bertajuk “Merancang Hari Esok Warisan Melayu di Era Algoritmik dan AI” di Medan.
Menurut Fakhrur, kecerdasan buatan hanya dapat mempelajari informasi yang telah tersedia dalam bentuk data digital. Karena itu, kelengkapan dokumentasi akan sangat menentukan seberapa besar budaya Melayu dikenal di ruang digital.
“AI belajar dari data. Jika dokumentasi budaya Melayu masih terbatas, maka pengetahuan AI tentang Melayu juga akan terbatas. Ketika masyarakat mencari informasi melalui ChatGPT, Gemini, Claude, atau Copilot, kualitas jawaban yang muncul sangat bergantung pada data yang tersedia hari ini,” ujar pria yang juga praktisi media ini.
Dia menjelaskan, selama ini berbagai peninggalan Kesultanan Melayu, rumah-rumah tua, manuskrip, pantun, hingga tokoh Melayu memang masih dikenal oleh masyarakat lokal. Namun, sebagian besar belum terdokumentasi secara sistematis sehingga sulit ditemukan melalui internet maupun dimanfaatkan sebagai basis pengetahuan digital.
Karena itu, Dr. Rozi menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui produksi konten media sosial. Menurutnya, media sosial bekerja berdasarkan algoritma yang mengejar popularitas dan tingkat keterlibatan pengguna (engagement), sedangkan pelestarian budaya memerlukan dokumentasi yang autentik, terstruktur, dan berkelanjutan.
Dia mengusulkan agar ISMI mengambil peran sebagai memory institution atau lembaga pengelola pengetahuan budaya, bukan sekadar menjadi pembuat konten.
“Yang dibutuhkan bukan hanya viralnya konten budaya Melayu, tetapi tersedianya repository digital yang memuat manuskrip, sejarah, rumah peninggalan, arsip foto, video, pantun, hikayat, dan tokoh-tokoh Melayu. Repository inilah yang nantinya menjadi fondasi bagi pengembangan pengetahuan, riset, pendidikan, hingga pemanfaatan AI,” katanya.
Selain itu, Rozi juga melihat peluang besar lahirnya konten kreator yang secara khusus mengangkat budaya Melayu, terutama Melayu Deli dan Sumatera Timur.
“Ruang digital budaya Melayu masih sangat terbuka. Sejarah, bahasa, pantun, adat, kuliner, tokoh, hingga wisata Melayu merupakan kekayaan yang dapat dikembangkan menjadi konten edukatif, tetapi tetap harus mengedepankan etika digital,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PW ISMI Sumatera Utara Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.Ag menyatakan bahwa gagasan pembangunan repository digital sejalan dengan arah pengembangan organisasi sebagai pusat pengelolaan pengetahuan Melayu.
Menurut Nispul, ISMI memiliki tanggung jawab untuk memastikan warisan intelektual Melayu tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga terdokumentasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas.
“ISMI harus menjadi rumah bagi pengetahuan Melayu. Dokumentasi digital bukan sekadar upaya menyimpan data, tetapi investasi peradaban agar sejarah, nilai, dan identitas Melayu tetap hidup, mudah dipelajari, serta relevan bagi generasi mendatang. Gagasan ini akan menjadi bagian penting dalam penyusunan Peta Jalan Kesarjanaan Melayu Indonesia,” katanya.
Melalui inisiatif tersebut, PW ISMI Sumatera Utara menargetkan pembangunan repository digital yang menghimpun berbagai aset budaya Melayu sebagai fondasi penguatan riset, pendidikan, pelestarian budaya, serta pengembangan pengetahuan Melayu di era transformasi digital.(reza sahab/red)