Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari saat menjadi narasumber dalam Seri Diskusi PW ISMI Sumut, yang dihadiri Prof Nispul Khoiri, di Seri Diskusi PW ISMI Sumut, Kamis (23/7/2026).(HO/kaldera)MEDAN, kaldera.id – Di balik perjalanan sejarah Melayu khususnya di Sumatera Timur, pernah lahir generasi intelektual yang memainkan peran penting dalam membangun pendidikan, pers, sastra, gerakan Islam, hingga kesadaran kebangsaan Indonesia pada awal abad ke-20.
Jejak itu dipaparkan sejarawan Universitas Negeri Medan Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S. dalam Diskusi Publik “Konstruksi Peta Jalan Masa Depan Kesarjanaan Melayu Indonesia” yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PW ISMI) Sumatera Utara di Medan, Kamis (23/7/2026).
Menurut Ichwan, penelitian mengenai intelektual Melayu Sumatra Timur menunjukkan bahwa kemajuan masyarakat Melayu pada masa itu tidak lahir secara kebetulan. Tradisi keilmuan berkembang melalui pendidikan Islam, jaringan ulama, serta keterbukaan terhadap dunia luar, khususnya Timur Tengah. Dari ruang-ruang pendidikan itulah lahir tokoh-tokoh yang kemudian mendirikan lembaga pendidikan modern, mengembangkan organisasi Islam, serta aktif dalam dunia pers dan sastra.
“Kalau kita membaca sejarah secara utuh, kita akan menemukan bahwa intelektual Melayu bukan hanya menghasilkan ulama, tetapi juga wartawan, penyair, pendidik, dan pemimpin pergerakan. Mereka ikut membentuk fondasi Indonesia modern,” ujar Ichwan.
Kata dia, Adam Malik (Wakil Presiden ke 3 RI) bahkan pernah mengenyam pendidikan di Tanjung Pura, Langkat, sebelum melanjutkan pendidikan ke Medan. Tanjung Pura pada awal abad ke-20 memang merupakan salah satu pusat pendidikan modern di Sumatra Timur. Kota ini berkembang berkat dukungan Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmat Shah yang mendirikan berbagai lembaga pendidikan, termasuk Madrasah Al-Masrullah (1892), Madrasah Aziziah (1914), dan Madrasah Mahmudiyah (1921). Lembaga ini menjadi magnet pendidikan bagi pelajar dari berbagai daerah di Nusantara.
Dia mencatat satu temuan yang menarik. Berbagai tokoh Melayu tersebut memang memiliki jaringan pendidikan dan keagamaan yang luas, tetapi belum membangun jaringan kemelayuan sebagai sebuah gerakan yang terorganisasi. Sebaliknya, mereka lebih banyak bergerak melalui semangat kebangsaan dengan memanfaatkan pers, organisasi Islam, dan pendidikan sebagai instrumen perjuangan melawan kolonialisme.
Salah satu contohnya adalah Tengku Sabaruddin, pendiri surat kabar Benih Merdeka pada 1916, yang dikenal sebagai surat kabar bumiputera pertama di Sumatra Timur. Melalui media itu, ia menyuarakan gagasan antikolonial dan membangun kesadaran nasional masyarakat Melayu.
Peran serupa juga terlihat pada O.K. Ozir, tokoh Sarekat Islam yang menjadikan pers sebagai media perjuangan politik dan pemberdayaan masyarakat pribumi.
Sementara di bidang sastra, nama Tengku Amir Hamzah memperlihatkan bagaimana identitas Melayu menjadi bagian penting dalam pembentukan sastra Indonesia modern. Lewat karya-karyanya, ia tidak hanya memperkaya bahasa Indonesia, tetapi juga menunjukkan bahwa tradisi Melayu mampu berdialog dengan gagasan kebangsaan.
Ichwan juga mengangkat kiprah sejumlah ulama seperti Syekh Yahya Affandi, Syekh Abdurrahim Abdullah, dan Syekh Abdullah Afifuddin yang memperluas jaringan pendidikan Islam modern melalui hubungan dengan Mekkah dan Al-Azhar. Tradisi keilmuan itulah yang kemudian melahirkan generasi intelektual Melayu dengan cakrawala yang lebih luas.
Menurut Ichwan, sejarah tersebut membuktikan bahwa kekuatan utama masyarakat Melayu sejak dahulu bukan hanya terletak pada institusi kesultanan, melainkan pada tradisi ilmu pengetahuan yang melahirkan pemimpin-pemimpin berpengaruh di bidang agama, pendidikan, sastra, jurnalistik, dan politik.
Ketua PW ISMI Sumatera Utara Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.Ag. menilai kajian sejarah intelektual Melayu seperti yang dipaparkan Prof. Ichwan menjadi fondasi penting dalam penyusunan Peta Jalan Kesarjanaan Melayu Indonesia.
Menurut Nispul, selama ini sejarah Melayu lebih sering dipahami sebagai kisah kejayaan kerajaan dan warisan budaya, padahal terdapat tradisi intelektual yang sangat kuat dan perlu dihidupkan kembali sebagai inspirasi pembangunan masa depan.
“Kajian Prof. Ichwan mengingatkan kita bahwa kemajuan Melayu dibangun oleh para intelektual yang menghasilkan ilmu, mendirikan sekolah, membangun pers, dan menggerakkan masyarakat. Karena itu, ISMI ingin menghidupkan kembali tradisi kesarjanaan tersebut agar menjadi energi baru dalam membangun peradaban Melayu di era digital,” katanya.
Ia menambahkan, ISMI tidak ingin hanya menjadi organisasi yang menghimpun para sarjana Melayu, tetapi juga menjadi pusat pengembangan pemikiran yang menghubungkan warisan intelektual masa lalu dengan tantangan masa depan.
“Kalau dahulu intelektual Melayu membangun peradaban melalui pena, sekolah, dan surat kabar, maka hari ini tugas kita adalah melanjutkan semangat itu melalui riset, digitalisasi pengetahuan, publikasi ilmiah, dan inovasi teknologi. Sejarah tidak boleh berhenti menjadi cerita, tetapi harus menjadi arah bagi masa depan,” ujar Nispul.(efri s/red)