Membaca InRelease 2.0: Musik, Audiens, dan Ingatan Kota

redaksi
8 Agu 2026 10:04
8 menit membaca

Oleh: Fakhrur Rozi

ADA banyak cara untuk mengenali sebuah kota. Salah satunya melalui musik yang tumbuh dari ruang-ruang sosialnya. Musik bukan hanya suara, melainkan juga rekaman pengalaman, identitas, ingatan, dan cara masyarakat membayangkan dirinya.

Karena itu, ketika musik lokal dihadirkan kembali ke ruang publik, ada proses menghidupkan ingatan, mempertemukan generasi, memperkenalkan karya, dan membuka percakapan mengenai ekosistem kebudayaan sebuah kota. Dalam konteks itulah InRelease 2.0 yang digelar pada 7 Agustus 2026 di Serayu Coffee, Jalan Sei Serayu, Medan, menarik untuk dibaca lebih jauh. Ia bukan sekadar agenda musik, tetapi sebuah upaya untuk membuat musik Medan kembali hadir dalam ruang dan benak publik.

InRelease lahir dari kolaborasi Yogi Yuwasta dari Warta Yogigs, Tri Harma dari Cumanngegigs, Atta dari Anamatope, Pebroni dari Grandcorp, dan Ninok selaku pemilik Serayu Kopi. Mereka membangun sebuah komunitas kreatif dengan tujuan mengarusutamakan musisi Kota Medan dan Sumatera Utara, baik karya maupun berbagai turunannya, ke ruang publik. InRelease juga direncanakan hadir dalam beberapa jilid sehingga setiap perhelatan dapat menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Pilihan tersebut penting karena ekosistem budaya tidak lahir dari satu malam pertunjukan, melainkan dari kontinuitas, percakapan, dokumentasi, dan ruang yang terus dipelihara.

InRelease 2.0 memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan kreatif dapat mempertemukan berbagai lapisan ekosistem musik dalam satu ruang. Ada diskusi bersama Hansen Teo, pemilik ET45, yang membahas perkembangan bisnis penjualan rilisan musik dalam bentuk fisik sekaligus sejarah industri musik di Medan. Ada pula wawancara singkat yang dipandu Array A Argus serta penampilan Filsafatian dan Wita, dua band asal Medan. Dengan demikian, publik tidak hanya diajak mendengar musik, tetapi juga memahami orang, sejarah, bisnis, dan pengalaman yang berada di belakang musik tersebut.

Makna Musik Lokal di Ruang Publik

Penampilan Filsafatian di InRelease 2.0

Penampilan Filsafatian di InRelease 2.0

Dalam pendekatan kajian budaya, komunikasi bukan sebagai proses satu arah ketika produsen mengirimkan pesan dan audiens sekadar menerimanya. Stuart Hall (1973) menyebut, pesan terlebih dahulu mengalami proses encoding, kemudian ditafsirkan kembali melalui proses decoding oleh audiens dengan latar sosial, budaya, pengetahuan, dan pengalaman hidup yang berbeda. Artinya, makna sebuah pesan tidak sepenuhnya berada di tangan pembuatnya karena audiens memiliki kemampuan aktif untuk menerima, menegosiasikan, bahkan menolak makna yang ditawarkan.

Jika InRelease dibaca melalui kerangka tersebut, para penggagasnya sedang melakukan proses encoding mengenai pentingnya musik lokal. Pesan yang dibangun adalah bahwa musisi Medan dan Sumatera Utara memiliki karya, sejarah, pengalaman, dan ekosistem yang layak mendapatkan ruang dalam percakapan publik. Pesan itu tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui pilihan narasumber, musisi, format acara, dan ruang tempat kegiatan berlangsung. Ketika pesan tersebut bertemu dengan audiens, maknanya dapat berkembang ke berbagai arah sesuai pengalaman masing-masing.

Seorang musisi muda mungkin datang ke InRelease dengan membaca kegiatan itu sebagai ruang mencari jaringan, inspirasi, dan peluang kolaborasi. Penggemar rilisan fisik mungkin lebih tertarik pada cerita Hansen Teo mengenai kaset, CD, koleksi, perdagangan, dan perjalanan industri musik yang pernah berkembang di Medan. Sementara pengunjung yang sekadar datang untuk menikmati pertunjukan dapat pulang dengan kesadaran baru bahwa di kota ini terdapat skena musik yang terus bergerak.

Mengurai Pembacaan Audiens InRelease

Pada resepsi dominan, audiens menerima gagasan utama InRelease sebagaimana ditawarkan. Mereka melihat bahwa musik Medan memang membutuhkan ruang, musisi lokal perlu mendapatkan panggung, dan sejarah industri musik daerah perlu terus dibicarakan. Penampilan Filsafatian dan Wita kemudian dipahami sebagai bentuk konkret dari upaya memberikan ruang tersebut kepada musisi lokal. InRelease menjadi sebuah praktik kebudayaan yang positif karena mempertemukan karya, pelaku, komunitas, dan publik dalam satu ruang.

Pada posisi resepsi negosiasi, gagasan bahwa musik lokal penting, tetapi pada saat yang sama mempertanyakan bagaimana pengarusutamaan itu dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan. Mereka mungkin bertanya apakah pertunjukan musik saja cukup, bagaimana musisi memperoleh penghasilan, bagaimana karya didistribusikan, bagaimana sejarah musik didokumentasikan, dan bagaimana media dapat memperluas jangkauan musisi lokal. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah upaya untuk memaksa InRelease, memperluas makna yang sedang dibangun.

Terakhir adalah posisi resepsi oposisi. Audiens menerima bahwa musik lokal penting, tetapi mempertanyakan apakah sebuah kegiatan komunitas di ruang kreatif mampu benar-benar mengubah posisi musik lokal dalam struktur industri dan budaya yang lebih luas. Pertanyaan kritisnya adalah siapa yang hadir, siapa yang mendengar, dan sejauh mana pesan tersebut dapat menjangkau masyarakat yang berada di luar lingkaran komunitas musik.

Jika tujuan InRelease adalah mengarusutamakan musik lokal, maka ukuran keberhasilannya tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya penonton atau meriahnya pertunjukan. Ia juga perlu dilihat dari kemampuan membangun sirkulasi karya, pengetahuan, jaringan, dan apresiasi yang melampaui komunitas awalnya.

Tentang InRelease 2.0 dan Seterusnya

Owner ET.45 Hansen Teo (kiri) di InRelease 2.0

Owner ET.45 Hansen Teo (kiri) di InRelease 2.0

Pembicaraan bersama Hansen Teo memberikan lapisan lain yang menarik dalam membaca InRelease 2.0. Rilisan musik fisik sering kali dianggap sebagai bagian dari masa lalu yang perlahan tergeser oleh layanan streaming dan distribusi digital. Padahal, kaset, CD, sampul album, poster, katalog, dan memorabilia musik dapat berfungsi sebagai artefak yang menyimpan memori sosial. Ketika sejarah rilisan fisik dibicarakan kembali, yang sebenarnya sedang dibuka bukan hanya nostalgia terhadap benda, tetapi juga ingatan tentang bagaimana industri musik dan budaya pendengar pernah bekerja.

Dalam konteks itu, rilisan fisik memperoleh makna baru sebagai arsip kebudayaan. Ia menyimpan jejak tentang musisi, label, toko musik, kolektor, komunitas pendengar, ruang pertunjukan, serta cara sebuah generasi membangun hubungan dengan musik. Ketika Hansen Teo berbicara mengenai bisnis rilisan fisik dan sejarah industri musik Medan, publik sebenarnya sedang diajak membaca kembali salah satu bagian dari memori kota. Percakapan semacam ini penting karena perkembangan musik masa kini tidak seharusnya membuat sejarah musik sebelumnya menjadi tidak terlihat. Sebuah ekosistem yang sehat membutuhkan inovasi sekaligus ingatan.

Setelah percakapan mengenai sejarah dan industri, InRelease 2.0 membawa audiens pada pengalaman musik secara langsung melalui penampilan Filsafatian dan WITA. Kehadiran kedua band tersebut menunjukkan bahwa musik tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dialami melalui suara, tubuh, panggung, lirik, atmosfer, dan interaksi dengan penonton. Di sinilah proses decoding Stuart Hall berlangsung secara lebih kompleks karena audiens tidak hanya menafsirkan informasi, tetapi juga mengalami teks budaya secara langsung. Setiap orang dapat membawa pulang pengalaman berbeda meskipun menyaksikan pertunjukan yang sama.

WITA di InRelease 2.0

WITA di InRelease 2.0

Bagi seorang penonton, Filsafatian dan Wita mungkin merupakan dua band yang memberikan pengalaman hiburan. Bagi musisi lain, keduanya dapat menjadi referensi artistik dan pintu masuk untuk memahami perkembangan skena musik Medan. Bagi komunitas, penampilan tersebut dapat dimaknai sebagai representasi keberadaan musisi lokal yang terus bekerja dan mencari ruang. Perbedaan pembacaan itu memperlihatkan bahwa makna musik tidak pernah tunggal dan selalu terbuka terhadap pengalaman audiens.

Ruang berlangsungnya InRelease 2.0 juga layak diperhatikan. Serayu Coffee tidak sekadar berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan acara, tetapi menjadi ruang sosial tempat berbagai aktor kebudayaan bertemu dan berinteraksi. Di sana, batas antara kedai kopi, ruang komunitas, ruang diskusi, dan ruang pertunjukan menjadi semakin cair. Dalam perkembangan kota modern, ruang-ruang informal semacam ini dapat memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan kebudayaan karena gagasan sering kali tumbuh dari pertemuan yang tidak terlalu formal.

Mengarusutamakan musik lokal tidak boleh berhenti pada kegiatan menampilkan musisi lokal. Menampilkan adalah langkah awal, sedangkan mengarusutamakan berarti membuat karya tersebut hadir dalam percakapan yang lebih luas, memiliki dokumentasi, memperoleh akses distribusi, mendapatkan perhatian media, dan memiliki hubungan dengan ekosistem ekonomi kreatif. Musik lokal harus didengar, tetapi juga perlu dibicarakan, ditulis, diarsipkan, dipelajari, dan diwariskan. Di sinilah keberlanjutan InRelease dalam bentuk berjilid-jilid dapat menjadi sangat penting.

Setiap jilid InRelease berpotensi menjadi bagian dari arsip musik kontemporer Medan. Percakapan dengan pelaku industri dapat didokumentasikan, kisah musisi dapat ditulis, pertunjukan dapat diarsipkan, dan pengalaman audiens dapat menjadi bagian dari memori kolektif. Jika dikelola secara konsisten, InRelease bahkan dapat berkembang dari agenda komunitas menjadi ruang produksi pengetahuan mengenai musik dan kebudayaan Sumatera Utara. Pada titik tersebut, nilai InRelease tidak lagi hanya berada pada panggung, tetapi juga pada jejak pengetahuan yang ditinggalkannya.

Menemukan Medan Lewat Musik

Medan memiliki sejarah panjang kebudayaan populer, tetapi sejarah tidak akan bertahan hanya karena pernah terjadi karena ia membutuhkan dokumentasi, percakapan, pewarisan, dan ruang untuk terus dimaknai. Musik menjadi salah satu medium penting untuk melakukan semua itu.

Barangkali keberhasilan InRelease tidak boleh dilihat dari seberapa ramai sebuah jilid berlangsung. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah acara itu publik menjadi sedikit lebih sadar bahwa di kota ini ada musisi yang berkarya, ada sejarah industri yang patut diingat, ada komunitas yang terus bekerja, dan ada ekosistem musik yang layak diperbincangkan. Ia telah menjadi bagian dari proses membangun ingatan kebudayaan.

Mengarusutamakan musik lokal pada akhirnya bukan sekadar membuat musik itu terdengar lebih keras. Tapi membuat keberadaan musik tersebut diperhitungkan dalam percakapan publik, dalam ingatan kota, dalam ekosistem ekonomi kreatif, dan dalam cara masyarakat Kota Medan memahami identitas kebudayaannya.(*)

*)Dosen UINSU, Pengurus PWI Sumut, Peminat Kajian Media dan Budaya.