Gus Irawan Pasaribu: Penunjukan Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Optimisme Baru Arah Fiskal Presiden Prabowo

redaksi
15 Sep 2026 18:35
Medan News 0 4
4 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – Gus Irawan Pasaribu, Bupati Tapanuli Selatan yang lama menjadi anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra pada bidang keuangan perbankan, menyambut positif pelantikan Prof. Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Dia menilai penunjukan tersebut sudah sangat tepat, mengingat rekam jejak dan pengalaman panjang Suahasil di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), yang menurutnya menjadi modal penting membenahi arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan sekaligus memperbaiki postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar lebih sehat.

“Saya kira ini pilihan yang sangat tepat dari Bapak Presiden Prabowo. Pak Suahasil ini bukan orang baru di Kemenkeu, jam terbangnya sudah sangat panjang, dari Kepala Badan Kebijakan Fiskal sampai Wakil Menteri Keuangan hampir tujuh tahun. Dengan pengalaman seperti itu, saya yakin beliau paham betul di mana titik-titik masalah fiskal kita selama ini,” kata Gus Irawan, lewat sambungan telefon dari Sipirok, Selasa (15/9/2026).

Keyakinan Gus Irawan bukan tanpa dasar. Sebelum menjabat Bupati Tapsel, ia dua periode duduk di Komisi XI DPR RI (2014–2016 sebagai Wakil Ketua, dan 2019–2024 sebagai anggota) yang membidangi keuangan, perbankan, dan perencanaan pembangunan — komisi yang selama bertahun-tahun menjadi mitra kerja langsung Kementerian Keuangan dalam pembahasan APBN. Suahasil Nazara, yang menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak Oktober 2019, adalah salah satu pejabat Kemenkeu yang paling sering hadir dalam rapat kerja dengan Komisi XI sepanjang periode tersebut.

“Saya cukup lama satu meja dengan beliau di rapat-rapat kerja dan rapat dengar pendapat Komisi XI. Jadi saya tahu persis cara berpikir dan cara kerja Pak Suahasil, orangnya sangat menguasai data, tenang, dan konsisten menjelaskan kebijakan meski situasinya sedang tertekan. Itu modal penting untuk jadi Menkeu di tengah kondisi fiskal yang tidak mudah seperti sekarang,” ujarnya.

Gus Irawan mengakui, Menkeu baru ini langsung dihadapkan pada sejumlah persoalan fiskal yang tidak ringan. Dalam postur awal APBN 2026, pemerintah menetapkan pendapatan negara Rp3.153,6 triliun dan belanja Rp3.842,7 triliun, dengan defisit direncanakan Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun dalam perjalanannya, realisasi penerimaan pajak sepanjang 2025 hanya mencapai sekitar 87 persen dari target, sementara defisit anggaran pada triwulan I-2026 saja sudah mencapai 0,93 persen PDB, sehingga outlook defisit tahun ini diperkirakan melebar ke kisaran 2,85 persen PDB.

Dia juga menyoroti tekanan dari sisi beban utang. Berdasarkan laporan Bank Dunia, rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara telah mencapai 20,5 persen pada Oktober 2025, naik signifikan dibanding rata-rata 14 persen sepanjang 2015–2022, sementara rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di level sekitar 40,5 persen. “Artinya dari setiap Rp1 juta pendapatan negara, sekitar Rp205 ribu habis hanya untuk bayar bunga utang, belum pokoknya. Ini pekerjaan rumah yang harus segera ditangani, dan saya percaya Pak Suahasil paham betul cara membaca angka-angka seperti ini karena beliau memang berlatar belakang periset kebijakan fiskal,” kata Gus Irawan.

Dia menambahkan, tantangan itu akan berlanjut ke penyusunan RAPBN 2027 yang telah disepakati pemerintah bersama Badan Anggaran DPR pada 7 September 2026, dengan belanja negara dipatok Rp4.106,3 triliun, pendapatan Rp3.426 triliun, dan defisit ditargetkan turun menjadi 2,40 persen PDB atau Rp671,2 triliun. “Ini ujian ganda buat beliau: menutup APBN 2026 dengan baik, sambil menyiapkan APBN 2027 yang lebih sehat. Tidak mudah, tapi kalau bukan orang yang sudah paham seluk-beluk Kemenkeu, saya khawatir masa transisinya justru mengganggu kepercayaan pasar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gus Irawan menilai sosok Suahasil sejalan dengan agenda besar pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dalam lima tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, dengan tahapan bertingkat dari 5,3 persen (2025), 6,3 persen (2026), 7,5 persen (2027), 7,7 persen (2028), hingga 8 persen pada 2029.

“Target 8 persen itu memang ambisius, saya sendiri melihatnya sebagai target yang menantang, bukan sesuatu yang otomatis tercapai. Tapi justru di situ pentingnya sosok seperti Pak Suahasil, yang selama ini dikenal berhati-hati menjaga kesinambungan fiskal. Kalau pertumbuhan mau dikejar tapi APBN dibiarkan jebol, itu bahaya. Saya kira arah kebijakan beliau nanti akan berupaya menyeimbangkan keduanya, mendorong belanja produktif untuk pertumbuhan, tapi penerimaan negara juga digenjot supaya defisit tetap terkendali,” katanya.

Gus Irawan menyatakan dukungan formalnya terhadap kinerja Menkeu baru dan berharap sejumlah persoalan fiskal yang selama ini mengemuka, mulai dari shortfall penerimaan pajak, pelebaran defisit, hingga tingginya beban bunga utang, dapat berangsur ditangani di bawah kepemimpinan Suahasil. “Saya yakin dengan pengalaman panjang beliau di Kemenkeu, masalah-masalah fiskal yang selama ini jadi catatan banyak ekonom bisa mulai diselesaikan secara bertahap. Tentu tidak bisa instan, tapi arahnya saya optimistis akan membaik,” ujarnya.

Dia juga berharap perbaikan kebijakan fiskal di tingkat pusat turut memberi ruang fiskal yang lebih baik bagi daerah, termasuk Tapanuli Selatan, khususnya melalui transfer ke daerah dan dana desa yang lebih stabil. “Kami di daerah ini sangat berkepentingan dengan kesehatan APBN pusat, karena itu memengaruhi transfer ke daerah. Karena itu saya secara pribadi maupun sebagai kepala daerah menyatakan dukungan penuh kepada Pak Suahasil untuk bekerja maksimal menyehatkan fiskal negara,” pungkas Gus Irawan.