Bobby Nasution Ingatkan Kampung Kreatif Rp50 Miliar, Rumah Warga Miskin Jangan Diabaikan

redaksi
29 Okt 2026 09:04
Medan News 0 3
4 menit membaca

 

GUNUNGSITOLI, kaldera.id – Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengingatkan Pemko Gunungsitoli agar tidak menghabiskan anggaran Rp50 miliar untuk penataan Kampung Kreatif Nou Berkah tanpa memastikan rumah warga miskin ikut diperbaiki. Ia menegaskan, pembangunan kawasan wisata di bantaran Sungai Nou harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat, bukan sekadar mempercantik lingkungan.

“Jangan sampai kita keluar anggaran Rp50 miliar untuk tempat wisata, tapi rumah warga di belakangnya tetap reyot dan tidak terintervensi. Warga sudah semangat, mereka harus mendapatkan dampak langsung pembangunan pada tempat tinggal mereka,” tegas Bobby saat mengevaluasi proposal Kampung Kreatif Nou Berkah yang dipaparkan Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli di kediaman sementara Gubernur Sumut di Gunungsitoli, Rabu (28/10/2026) malam.

Bobby meminta Pemko Gunungsitoli memasukkan perbaikan rumah warga miskin ke dalam rencana konkret penataan kawasan. Dukungan dapat diupayakan melalui skema hibah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun APBD Kota Gunungsitoli.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur pariwisata tidak boleh mengabaikan kondisi sosial masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Apalagi, data yang dipaparkan menunjukkan 76,1 persen dari 1.756 jiwa penduduk bantaran Sungai Nou masuk kategori miskin ekstrem atau desil 1, dengan rata-rata pendapatan keluarga hanya Rp800.000 per bulan.



Bobby juga meminta kejelasan data jumlah rumah yang akan diperbaiki dari total 410 kepala keluarga (KK) yang bermukim di kawasan itu. Pemko diminta memastikan legalitas alas hak tanah warga di Lingkungan I Kelurahan Hilir dan Lingkungan III Kelurahan Pasar.

Ia turut menyoroti visualisasi perencanaan yang dinilai belum memperlihatkan seluruh rumah warga secara jelas. Menurutnya, kondisi tersebut perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan persoalan dalam pelaksanaan pembangunan.

“Saya lihat ada titik yang harusnya rumah-rumah warga hari ini ada, tapi ketika visualisasi perencanaan dibangun, rumah-rumahnya hilang. Ini perlu diperjelas, apakah memang benar ada penggusuran atau hanya kesalahan sudut pandang (positioning view) dalam visualisasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli menjelaskan, kawasan yang diusulkan masuk program Kampung Kreatif Sumut Berkah meliputi bantaran Sungai Nou di Lingkungan I Kelurahan Hilir dan Lingkungan III Kelurahan Pasar, Kecamatan Gunungsitoli.

Lokasi tersebut berjarak sekitar 0,5 hingga 1,5 kilometer dari pusat kota dan dinilai strategis untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis wisata tepi air atau waterfront.

Berdasarkan data Pemko Gunungsitoli, kawasan itu dihuni 1.756 jiwa atau 410 KK. Lebih dari 80 persen warga bergantung pada bantuan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), serta Penerima Bantuan Iuran (PBI/PBIK). Warga juga bergantung pada pemanfaatan kawasan sempadan sungai, sementara sanitasi, pengelolaan sampah, dan ketersediaan rumah layak huni masih menjadi persoalan.

Sowa’a berharap kawasan bantaran Sungai Nou dapat dipertimbangkan sebagai penerima program Kampung Kreatif Sumut Berkah. Program tersebut diharapkan menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru yang memperkuat identitas budaya Nias sekaligus mendorong capaian ekonomi dan sosial daerah.

Pemko Gunungsitoli juga merancang perubahan mata pencaharian masyarakat agar terhubung dengan aktivitas pariwisata. Nelayan diarahkan menjadi pemasok bahan baku kuliner laut, operator wisata, hingga pengelola dermaga mini. Pedagang asongan didorong menjadi pelaku UMKM kreatif yang memiliki legalitas usaha.

Sementara itu, ibu rumah tangga akan diberdayakan melalui PKK dan Karang Taruna untuk menghasilkan produk kuliner serta kriya atau anyaman khas Nias. Pekerja lepas juga direncanakan mendapat pelatihan agar dapat bekerja secara profesional di bidang pariwisata dan pengelolaan kawasan.

Dalam proposalnya, Pemko Gunungsitoli mengusulkan anggaran Rp50 miliar. Rinciannya, stabilisasi bantaran dan resapan terpadu Rp18,5 miliar, pembangunan waterfront Rp15 miliar, kampung mural dan identitas visual Nias Rp3,5 miliar, pengelolaan sampah berbasis komunitas Rp3,5 miliar, aktivasi ekonomi berbasis rumah warga Rp7,5 miliar, serta wisata air dan kuliner sungai Rp5 miliar.

Sowa’a memproyeksikan program tersebut menghasilkan efek pengganda fiskal 2,1 hingga 2,8 kali, dengan potensi perputaran ekonomi Rp105 miliar hingga Rp140 miliar dalam lima tahun.

Namun, evaluasi Bobby menegaskan bahwa rencana pembangunan itu harus disertai langkah nyata memperbaiki rumah warga miskin agar manfaat program tidak berhenti pada pembangunan kawasan wisata. (Reza)