INALUM Borong Dua Emas ISDA 2026, Sampah Disulap Jadi Uang

redaksi
19 Okt 2026 15:09
Medan News 0 23
3 menit membaca

 

MEDAN, kaldera.id – PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) meraih dua penghargaan Gold dalam ajang Indonesian SDGs Awards (ISDA) 2026 melalui program pemberdayaan masyarakat Bank Sampah Berseri dan Gubuk Jamur Dani di Desa Kuala Tanjung.

Dua program tersebut menunjukkan hasil berbeda dengan tujuan yang sama, yakni mengubah potensi lokal menjadi nilai ekonomi. Bank Sampah Berseri mengelola sampah organik dan anorganik, sedangkan Gubuk Jamur Dani meningkatkan kapasitas usaha budidaya jamur tiram putih.

Kepala Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel Hutauruk, mengatakan penghargaan tersebut merupakan apresiasi atas kolaborasi perusahaan dan masyarakat dalam membangun program yang mendorong kemandirian.

“Penghargaan ini bagi kami bukan sekadar pencapaian perusahaan, tetapi juga apresiasi atas proses dan kerja bersama masyarakat. Bank Sampah Berseri dan Gubuk Jamur Dani kami kembangkan dengan semangat untuk memperkuat kapasitas masyarakat, sehingga mereka dapat mengelola potensi yang ada di lingkungannya menjadi sesuatu yang bernilai,” ujar Daniel.

Bank Sampah Berseri menerapkan pendekatan ekonomi sirkular dengan mendorong masyarakat memandang sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi. Program ini rata-rata mengelola 76.444,6 kilogram sampah organik dan 22.346,8 kilogram sampah anorganik per tahun.

Pengelolaannya dilakukan melalui pemilahan sampah berbasis masyarakat, penguatan kelembagaan bank sampah, serta pelibatan warga dan sekolah sebagai nasabah. Selain mengurangi timbulan sampah, program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Sementara itu, Gubuk Jamur Dani mencatat peningkatan kapasitas produksi setelah mendapat dukungan INALUM berupa bantuan mesin steamer dan pendampingan usaha.

Sebelum menerima bantuan, usaha budidaya jamur tiram putih tersebut memiliki kapasitas produksi 90 baglog per hari dengan hasil panen sekitar 3–8,5 kilogram per hari. Setelah intervensi program, kapasitas produksi meningkat menjadi 270 baglog per hari, dengan hasil panen mencapai 7–22 kilogram per hari.

Usaha tersebut kini mempekerjakan lima orang. Gubuk Jamur Dani juga mencatat pendapatan kotor Rp8,6 juta per bulan dan pendapatan bersih Rp3,609 juta per bulan.

Menurut Daniel, keberhasilan program pemberdayaan tidak cukup diukur dari bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengelola dan mengembangkan usaha secara mandiri.

“Kami ingin program TJSL tidak berhenti pada bantuan. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk mengembangkan kegiatan yang produktif. Dengan begitu, manfaat program dapat terus dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

ISDA merupakan ajang penghargaan yang diselenggarakan Corporate Forum for CSR Development (CFCD) untuk mengapresiasi perusahaan dan lembaga yang menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Penilaiannya mengacu pada 17 tujuan SDGs dan berlandaskan prinsip ISO 26000.

Bagi INALUM, dua penghargaan Gold tersebut menjadi dorongan untuk terus mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus menghasilkan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan dan perekonomian warga di sekitar wilayah operasional perusahaan. (Reza)